skip to Main Content

Tetap Belajar Walaupun Tidak Sekolah

Oleh: Abdul Hanif

Belajar sangat diidentikan dengan aktivitas bangku sekolah. Proses belajar dan mengajar dilakukan secara formal belaka, ada sosok guru dan ada sosok peserta didik, serta bangunan sekolah adalah sarana untuk mendapatkan kenyamanan dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran di sekolah pun terjadwalkan secara terstruktur efektif, dari awal memasuki ruangan, pembelajaran di dalam kelas, hingga akhir pembelajaran di kelas.

Mayoritas masyarakat masi mempunyai paradigma seperti itu. Namun pada faktanya, kegiatan belajar tak mengenal batasan ruang dan waktu. Ya, belajar tidak mengenal ruang dan waktu, persis seperti sekarang ini, dimana pada saat wabah covid-19 mewabah, maka hampir semua aktivitas religius maupun sosial turut serta berubah secara dinamis. Begitupula halnya dengan pendidikan sekarang ini.

Saat terjadinya pandemi covid-19 ini, semua tatanan dan aktivitas sekolah berubah secara total dinamis. Dulunya, kegiatan pembelajaran sekolah dilakukan secara bertatap wajah antara sosok guru dan murid. Kini, setelah datangnya wabah, mengakibatkan perubahan tatanan belajar mengajar dilakukan secara digital maupun di luar sekolah. hal ini mengisyaratkan kepada kita semua, bahwa belajar tidak mengenal ruang, waktu dan usia.

Belajar tidak mengenal ruang dan waktu senada dengan hadis nabi saw “uthlub al-ilm min al-mahdi ila al-lahd” artinya “pintailah ilmu dari buaian sampai liang lahat” hadis tersebut diperjelas oleh pengarang kitab “Qomi’ al-Thuqyan” yakni al-‘Allamah al-Syaikh Zain al-Din bin ‘Ali bin Ahmad As-Syafi’i al-Kusyini al-Malyabari (nafa’anallahu bihim aamiin) beliau berkata “ay an-tata’allama al-ilma fardun fi jami’i al-awqoth wa al-halath” maknanya adalah semua manusia hukumnya wajib ain meminta ilmu dalam keadaan apapun dan kapanpun. Bahkan dalam bukunya KH. Husein Muhammad “Ulama-ulama: yang Menghabiskan Hari-harinya untuk Membaca, Menulis, dan Menebarkan Cahaya Ilmu Pengetahuan” dijelaskan ada ulama besar, beliau mendapatkan gelar  qodhi al-qudhot (hakim agung) yaitu Abu Yusuf, konon diceritakan bahwa Imam Abu Yusuf tidak ikut menguburkan jenazah anaknya sendiri, karena khawatir akan ketinggalan mengaji kepada gurunya, yaitu Imam Abu Hanifah.

Hal demikian, menandakan bahwa betapa pentingnya belajar dan mempelajari ilmu, hal tersebut memberitahukan kepada kita, pembelajaran tidak mengenal ruangan (sekolah, universitas, school dan apapun itu namanya) walaupun pembelajaran hampir di seluruh penjuru negara pemerintah memfasilitasi untuk proses keberlangsungan belajar yang dinamakan sekolah. Namun, perkara belajar itu sendiri tidak dibatasi dengan hal tersebut.

Sebuah agadium mengatakan “experiance is the best teacher” ungkapan ini sering kali dilantunkan oleh beberapa para intlek. Adagium tersebut mempunyai makna “pengalaman adalah guru yang baik”. Dari adagium tersebut sudah jelas bahwa seseorang bisa mengambil hikmah pelajaran atas ibrah pengalamannya maupun pengalaman orang lain. Dari pengalaman tersebut seseorang bisa mempelajarinya. Sebab orang yang sudah berpengalaman, mereka sudah menelan dan mengalami pahit dan getirnya kehidupan, sehingga pengalaman tersebut bisa menjadi suatu pembelajaran bisa dipetik hikmanya untuk regenerasi berikut.

Ketahuilah oleh kita semua, bahwa perintah belajar/membaca tertera dalam surah al-‘Alaq dari ayat 1-5. atas dasar ayat tersebut maka manusia terkena khitab untuk mencari ilmu dengan proses pembelajaran.

Perlu diketahui pula, sebuah ilmu tidak akan bisa diperoleh kecuali melalui dua metode: 1). metode kasbiy, dan 2). metode sima’iy. Metode pertama, kasbiy yaitu ilmu yang diperoleh dengan cara mendawamkan materi pelajaran dan membaca materi tersebut melalui seorang guru. Kedua, simaiy yaitu belajar dari para ulama dengan cara mendengarkan baik dalam perkara religi maupun perkara duniawi, dan metode ini tidak akan bisa diperoleh oleh siapapun kecuali dengan mencintai para pewaris nabi (ulama) serta bergaul dengan para ulama, duduk bersimpuh dengan para ulama/fuqoha, dan meminta penafsiran para ulama atas tafsir hukum.

Metode yang pertama di atas kiranya saat ini sedang digunakan oleh berbagai macam kegiatan sekolah secara formal, maka dalam metode ini, jika seseorang tidak memasuki sekolah dia tidak akan bisa mendapatkan bidang ilmu. Namun, dalam metode simaiy, seseorang walaupun tidak memasuki bangku dunia pendidikan dan universitas dia akan tetap bisa mendapatkan sebidang ilmu, apabila ia dekat dengan para ulama, sering mengikuti dan duduk di majelis-majelis ilmu yang dibimbing langsung oleh pewaris nabi yaitu ulama dan fuqoha. Maka niscaya dia akan mendapatkan cahaya ilahi.

Maka dari itu, belajar tidak mesti dalam ruang bangku sekolah maupun kuliah, belajar di manapun dan kapan pun jika seseorang  menginginkan ilmu dan merasa haus akan ilmu, niscaya dia akan meminta ilmu kepada siapapun terkhusus kepada yang ahli dalam ilmu (para ulama dan fuqoha).

Wallahu A’lam


Abdul Hanif, Nahdliyin asal Bekasi juga mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top