skip to Main Content

Terkait TB Sensistif Obat (SO) & Resisten Obat (TB RO), Dinkes & Aktivis TB Ingatkan ini

Tuberkulosi atau TB atau TBC merupakan sakit yang disebakan oleh Mycorbacterium Tuberkulosis yang awalnya menyerang paru manusia. Para pengindap bakteri ini akan banyak mengalami gangguan kesehatan berupa batuk, demam meriang, berkeringat dingin di saat sore-malam hari tanpa sebab, nyeri dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun. Penting diingat, bahwa TB atau TBC bukanlah penyakit turunan, bukan pula disebabkan oleh kutukan atau guna-guna.

“Kuman atau Bakteri TBC ini dapat menular apabila terkena oleh droplet atau percikan dahak pada saat penderita batuk, bersin dan berbicara. Kemudian kuman atau bakteri ini terhirup oleh orang lain melalui saluran pernapasan. Pada tahap ini, apabila seseorang memiliki daya tahan tubuh lemah, besar kemungkinan besar akan tertular oleh bakteri ini. Namun apabila tidak, maka akan dijauhkan dari penularan ini“, terang Kasi P2P Menular Dinkes Kota Bandung, Ira Dewi Jani, , saat mengisi pelatiahn TB RO pada Kamis (16/07/20) di aula kantor PCNU Kota Bandung.

Oleh karena itu, “semua masyarakat diharapkan dapat menerapkan gaya hidup sehat dengan sebaik-baiknya. Beberpa hal yang penting dilakukan antara lain: mengkonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, membuka jendela rumah agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar, menjemur alas tidur agar tidak lembab, mendapatkan suntikan BCG bagi anak usia di bawah 5 tahun untuk menghindari TBC Berat (Meningitis dan Miler), olahraga teratur dan tidak merokok, dan pakai masker saat flu atau sakit“, pungkas teh Ira, sapaan akrabnya.

TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan cara minum obat yang teratur sesuai petunjuk dokter. Pemeriksaan atau pengobatan TBC dapat diperoleh secara gratis dari Puskesmas terdekat. Proses pengobatan dilakukan selama 6 atau 8 bulan yang terbagi ke dalam 2 tahap: tahap awal obat diminum setiap hari selam 2 atau 3 bulan beturut-turut, tahap kedua obat diminum 3 kali seminggu selama 4 atau 5 bulan lamanya. Seseorang membutuhkan tekad dan kemauan yang kuat agar dapat sembuh dari penyakit 10 besar mematikan ini. Apabila tidak demikian, maka seseorang pengindap TBC akan memasuki fase yang lebih parah lagi, yakni TB Resisten Obat (TB RO) dengan pengobatan jauh lebih lama.

“TB Resisten Obat (RO) atau TB Multi Drug Resisten (MDR) keadaan bakteri TB yang lebih kebal dari sebelumnya. Kekebalan Bakteri atau Kuman ini akibat dari ketidakteraturan pasien dalam menelan minum obat berdasar panduan dari dokter, menghentikan pengobatan secara sepihak (mangkir), mengalmi gangguan saat minum obat. Selain faktor ketelodoran personal pasien, juga dapa disebabkan karena tertular langsung dari pasien TB kebal obat lainnya, melalui udara saat pasien batuk atau bersin“, beber Rosdia Widiasih P, Manajer Kasus (MK) TB RO program TB LKNU yang bertugas di RS Hasan Sadikin Kota Bandung, saat mengisi Pelatiah.

Lebih lanjut, teh Dia, menyinggung tentang kebutuhan perjuangan ekstra maksimal dan disiplin agar sembuh bagi pasien pada taraf lanjut ini. “Pasien TB RO, atau TB Resisten Rifampisin (RR) atau istilah lain MDR yang ingin sembuh harus bersedia disuntik dan minum obat setidaknya 6 jenis dengan lama pengobatan minimal 9 bahkan sampai 20 bulan. Sementara tahap lebih lagi, atau dikenal dengan TB Extensively Drug Resisten (XDR) harus suntik dan minum lebih dari enam jenis obat dengan durasi 24 bulan atau 2 tahun“, pungkas perempuan asal Garut ini.

Pada kesempatani ini, Ali Makhrus, Implementer Unit (IU) TB LKNU Kota Bandung, mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengakhiri dan menyudahi hal-hal yang dapat menghambat proses pengobatan dan penanganan para pasien, terutama soal stigma dan diskriminasi. “Budaya Nusantara Indonesia adalah budaya humanis, sudah sepatutnya pada penderita TB mendapat rangkulan kasih sayang dari semua lapisan masyarakat bukan diolok olok atau dikucilkan. Selain itu agama melarang kita untuk berbuat dzalim kepada orang lain baik secara pisik maupun psikis“, harap bung Ali, saat menutup pelatihan.


Pewarta: Ali Makhrus

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top