skip to Main Content

“Santri Keren” PC Fatayat Kota Bandung, Bahas Keadilan Gender dalam Islam

Bandung, Media Center NU Kota Bandung.  Kegiatan “nyantri keren” PC Fatayat NU Kota Bandung, sudah memasuki pekan ke tiga. Kegiatan yang dilaksanakan di Yayasan Anak Soleh, Jl. Rancabolang No.01 ini akan terus berlangsung selama beberapa pekan kedepan. Pada Minggu (14/03) para peserta diberikan materi mengenai Keadilan Gender dalam Islam.

Sebagai narasumber hadir, Dr. Neng Hannah, M.Ag, yang merupakan ketua Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, juga seorang aktivis gender dan pengurus PW Fatayat NU Jabar.

“Isu mengenai gender tidak pernah habis untuk dikupas dan dibahas, bukan tentang dalil-dalil yang sudah jelas dan terang benderang kebenarannya, tapi kajian ditujukan pada kesalahan pandangan masyarakat secara umum terhadap tradisi budaya dan tradisi agama”, paparnya.

Teh Hannah, sapaan akrabnya. Secara umum mendiskusikan sejarah pergulatan Islam dengan ketidakadilan sosial, utamanya mengenai ketidakadilan gender. Tema yang dapat perhatian khusus adalah isu keluarga, terutama relasi pasangan suami istri yang setara, karena keluarga merupakan ruang vital untuk diedukasi mengenai kesetaraan gender.

Lebih lanjut, Teh Hannah menyampaikan berbagai perbedaan pengalaman biologis dan sosial antara perempuan dan laki-laki. Sehingga untuk mencapai kemaslahatan bukan saja diperlukan keadilan normal tetapi keadilan proporsional. Sebab hampir semua pengalaman biologis perempuan yang meliputi, menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui, hampir kesemuanya disertai rasa sakit dalam kurun waktu yang beragam.

“Perempuan merasakan sakit atas semua pengalaman biologisnya dalam kurun waktu yang lama, sementara laki-laki tidak.”Tutur Teh Hannah pada penyampaian materinya.

Begitu juga dengan pengalaman sosial yang dialami perempuan seperti stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda menggambarkan bahwa dunia ini hanya dimiliki oleh satu subjek saja. Iapun menyoal bahwa menjadi perempuan tidak melulu berhubungan dengan rumah tangga saja, namun perempuan harus  bisa mengisi ruang-ruang yang ada.

“Menjadi perempuan pun, tidak melulu menyoal dan dihubungkan dengan rumah tangga saja. Namun, perempuan harus bisa mengisi ruang-ruang yang ada dan tentunya bisa bermanfaat bukan hanya untuk lingkungan keluarga saja akan tetapi untuk masyarakat sekitar.” Pungkasnya.

Pewarta  : Dhilla
Editor      : Siti Fatonah

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top