skip to Main Content

Qunut Nazilah Saat Terjadi Wabah

“Assalamualaikum, para kiai tolong minta penjelasan, di salah satu mesjid saya pernah berjamaah Dzuhur dan asar tapi baca qunut kenapa ya? Bukan kah Qunut saat Sholat Shubuh juga masih di perselisihkan?Maaf Kyai mohon penjelasan Qunut Subuh dan lainnya itu, maaf dan trimakasih 🙏”

Pertanyaan tersebut diajukan oleh salah seorang jamaah pengajian MWCNU Kecamatan Sukajadi, dari pertanyaan tersebutlah sebuah diskusi yang sangat mengasyikan terjadi pada grup WhatsApph tersebut. Salah seorang Kiai. Kiai Imam Sholihun, memberikan jawabannya, diantaranya yakni; Bahwa qunut yang dilakukan oleh jamaah tersebut yakni Qunut Nazillah. Aatau qunut yang ditunaikan pada saat terjadi bala’ atau musibah yang sedang melanda. Bisa karena sebuah penjajahan, peperangan ataupun karena adanya wabah seperti kondisi saat ini yang sedang meneyebar diseluruh dunia termasuk Indonesia.

Dalam Madzhab Syafi’I disunahkan membaca do’a qunut pada saat shalat subuh, baik ketika terjadi musibah ataupun tidak. Seperti yang dikutip oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, hlm:57 pada bab Qunut didalam shalat subuh. Dalam kitabnya belliau mengatakan:

“Ketahuilah bahwasanya Membaca Do’a Qunut di dalam Shalat Subuh merupakan sunnah berdasarkan hadits Shohih dari Sahabat Anas RA, yang berbunyi: “Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan Qunut di dalam Sholat Subuh hingga Wafat.”

Sedangkan membaca Qunut Nazilah disunnahkan pada saat I’tidal rakaat yang terakhir setiap selesai melaksanaka shalat wajib (tidak hanya pada saat shalat subuh). Seperti yang dikutip oleh Imam Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyah Al Bajuri ‘ala Ibni Qosim  Juz 1 halaman 163. Hal tersebutpun dipertegas oleh Al-Imam An-Nawasi Al-Jawi dalam Kasyifatussaja halaman 73, yang berbunyi:

“Disunahkan membaca do’a Qunut disetiap Sholat baik itu pada saat shalat subuh ataupun shalat lainnya. Pada saat i’tidal rakaat terakhir karena turun bala atau musibah

Adapun bacaan qunut nazillah adalah sebagai berikut:

Allahummahdini fi man hadait, wa afini fi man ‘afait wa tawallani fi man tawallait, wa barikli fi ma a’thait, wa qini syarra ma qadhait, fa innaka taqdhi wa la yuqdha alaik, wa innahu la yadzillu man walait, wa la yaizzu man adait, tabarakta rabbana wa ta’alait, fa lakalhamdu ‘ala ma qadhait, astgahfiruka wa atubu ilaik. Allahummadfa’ annal ghala’a wal waba’a wal fakhsya’a wal munkar was syuyufal mukhtalifata was syadaidal mihan, ma dzhara minha wa ma bathana, min baladina hadza khassah, wa min buldanil muslimina aammah, innaka ala kulli syai’in qadir, wa shallallahu ala sayyidina muhammadin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Artinya:
Ya Allah, beri lah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Beri lah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpin lah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin.

Beri lah berkah pada segala yang telah Engkau pimpin. Beri lah berkah pada segala yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan pelihara lah aku dari kejahatan. Karena sesungguhnya Engkau-lah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidak lah akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan.

Dan tidak lah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Berkahlah Engkau dan Maha Luhurlah Engkau. Segala puji bagi-Mu atas yang telah Engkau pastikan. Aku mohon ampun dan tobat kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarganya dan

Wallahu a’lam.

Penulis: KH. Wahyul Afif Al-Ghofiqi (Sekretaris PCNU Kota Bandung)

Editor: Siti Fatonah

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top