skip to Main Content

Perbedaan doa orang Beriman dan Musyrik saat ditimpa musibah

Bandung, Media Center NU Kota Bandung
Dalam kegiatan Doa Bersama untuk Bangsa yang disiarkan langsung di TV NU, Senin (12/07). Intektual muda NU Gus Ulll Abshar Abdallah atau lebih terkenal dengan nama Gus Ulil menjelaskan mengenai perbedaan watak orang yang beriman dan orang musrik ketika menerima musibah.

Beliau menjelaskan hal tersebut, kareana kondisi saat ini kita sedang melewati pandi Covid-19 dan iapun mengajak hadiri yang mengikuti doa secara daring agar dapat mengambi pelajaran dari adanya pandemi.
“Watak manusia, yaitu orang musyrik adalah ketika mereka mendapat musibah atau krisis maka ia berdoa. Akan tetapi, ketika krisis itu dihilangkan oleh Allah swt maka akan kembali kepada watak awal. Namun orang yang beriman tidak begitu.” Jelas Gus Ulil.

Lebih lanjut Gus Ulil menyampaikan, bahwa watak orang musyrik ini dijelskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Pada saat ini, watak orang musyrik ini melekat pada manusia modern. Banyak orang yang tanpa terasa merawat sikap kaum musyrikin. Ketika dalam keadaan sulit, orang musyrik datang mengemis kepada Allahm merayuNya dengan doa dan shalat yang khusus dilakukan saat musibah datang. Namun, saat kesulitan itu Allah hilangkan. Maka ia kembali lagi kepada keadaan semula, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

“Sikap seperti ini, menurut saya bukan hanya watak orang musyrik. Tapi juga watak kebanyakan manusia ketika mendapat musibah. Saat dalam musibah, shalat khusyuk, berdoa juga khusyuk. Namun, saat sudah normal kembali, musibah sudah Allah angkat berdoa asal-asalan begitupun dnegan Shalar.” Ujar Gus Ulil, Beliaupun menambahkan,  perbedaan utama orang beriman dan musyrik saat ditimpa musibah akan terlihat setelah terjadinya musibah atau cobaan itu diangkat.  

Dikarenakan, orang berdoa saat sulit atau terdesak itu hal biasa. Bahkan banyak orang yang mendadak kembali dan ingat Allah lagi ketika dihantam cobaan.   Perbedaannya bedakan antara orang musyrik dan orang iman yaitu musyirikin akan kembali seperti semula, acuh tak acuh dengan Allah.

Sedangkan orang beriman, sikapnya tambah dekat dengan Allah. Doa yang dilakukan saat sulit, tetap dilakukan saat senang. “Jadi tindakan pasca krisis inilah yang terpenting. Cobaan tidak merubah apa-apa setelah kesulitan dihilangkan ini bisa dikatakan azab. Tidak mengambil pelajaran. Sudah diberikan cobaan, tapi tidak ada hal baru berubah,” tegas Gus Ulil.

Selain itu, Gus Ulilpun menjelaskan. Bahwa cobaan bagi orang yang beriman adalah ladang untuk menerapkan ajaran dari kalam-kalam hikmah yang selama ini dibaca ataupun dipelajari. Seperti kita sering menjumpai kata-kata mutiara penuh hikmah yang diposting diberbagai media sosial, yang didesain dengan sedemikian bagusnya. Namun, kadang bahkan nyaris kita gagal untuk menerapkannya saat mendapat musibah.

“Pandemi ini adalah saatnya menerapkan kalimat bijak pada kejadian yang kita alami sehari-hari selama pandemi Covid-19. Kata-kata mutiara tentang persahabatan, gotong royong, perdamaian itu coba diterap di sini. Kelanjutan dari ide dan tulisan adalah tindakan nyata,” katanya.  

Menurut Gus Ulil, saat ini kata bijak banyak digunakan untuk mencari sensasi. Dengan harapan, semakin terlihat bijak, bisa mendatangkan banyak like dan tambah follower. Manusia modern hidup di era aneh, karena kebijakan hanya diproduksi sebagai konten, mendatangkan pujian dan jempol serta emoticon. 

“Ini aneh, kalimat bijak dan hikmah itu memang indah dikutip. Sebetulnya tujuannya bukan itu. Kita sibuk pada konten dan lupa mengetes kalimat bijak tersebut sehingga tidak mengalami dalam laku sehari-hari. Ini bukan watak orang beriman. Semoga kita tidak termasuk orang yang musyrik yang hanya berdoa saat mendapat musibah saja.” Tandasnya.

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top