skip to Main Content

Pemimpin Perempuan Inspiratif dalam Islam

Oleh: Siti Latifah

Laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membangun masyarakat, bangsa, dan dunia melalui hal-hal yang bermanfaat demi kemajuan kehidupan umat manusia dalam semua aspek. Namun, dalam konteks kepemimpinan, ada kontroversi dari aspek keagamaan. Teks-teks keagamaan yang diinterpretasi oleh para pakar di bidangnya menegaskan ketidakbolehan perempuan menjadi pemimpin, karena dilihat dari sisi moral dan kapabilitas.

Di sisi moral, perempuan jika menjadi pemimpin akan mendorongnya untuk berinteraksi secara lebih intens dengan lawan jenis yang berpotensi menimbulkan fitnah. Sementara dari sisi kapabilitas, laki-laki lebih kuat dan unggul dari perempuan. Kelompok mayoritas umat Islam yang melarang perempuan tampil sebagai pemimpin karena alasan moral dan kapabilitas ini disebabkan oleh pemahaman terhadap teks-teks keagamaan yang dipahami secara tekstual dan rigid.

Nahdlatul Ulama pernah melakukan terobosan besar pada Munas NU di NTB pada tahun 1997 dengan tokoh perempuan, ketua umum IPPNU pada waktu itu yaitu Machrusah Taufiq dan dibantu Najihah Muhtarom. Mereka menggunakan analisis historis, sosiologis, dan nasionalis untuk memberikan pencerahan kepada para ulama NU yang masih konservatif. Secara historis, Machrusah Taufiq menyebutkan sejarah perempuan di Indonesia yang sukses memimpin. Secara sosiologis, banyak sekali pemimpin perempuan sekarang ini di wilayahnya masing-masing yang sukses memimpin institusi. Adapun secara nasionalis, perempuan dituntut bersama-sama kaum laki-laki untuk membangun bangsa dengan potensi yang dimiliki, sehingga pembatasan di sektor publik hanya mengerdilkan potensi perempuan dan membuat NU set-back dan kontradiksi dalam konteks visi besar pembangunan Indonesia. Alasan inilah yang diterima oleh para ulama, sehingga mereka menerima argumentasi sosiologis, historis, dan nasionalis.

Ditambah dengan fakta-fakta sejarah yang menunjukkan kesuksesan perempuan menjadi pemimpin yang secara tidak langsung dapat mematahkan argumen teologis yang melarang perempuan untuk berperan menjadi pemimpin. Di antara tokoh perempuan Islam yang sukses menjadi pemimpin ialah,

Ratu Bilqis, penguasa negeri Saba, yang kepemimpinannya dikenal sukses secara gemilang, keamanan negara terjamin dengan baik, dan ekonominya makmur-sentosa.

Dalam sejarah Islam, Bunda Aisyah, beliau adalah istri Nabi saw. merupakan seorang perempuan dan beliau dipilih untuk memimpin perang unta di Basrah. Pada masa awal Islam, Bunda Aisyah ikut terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat dan berperan dalam berbagai bidang –tidak hanya dalam wilayah domestik, tetapi juga dalam wilayah publik. Aisyah ikut berperan menjelaskan persoalan yang bersifat khusus perempuan, sehingga para perempuan pada masa itu terlibat aktif dalam proses belajar mengajar, yang pada saat itu belum terdapat pendidikan formal.

Rabi’ah al-Adawiyah, beliau adalah pemimpin Islam dan namanya banyak dibicarakan dalam dunia Islam, khususnya di kalangan kaum sufi.  Waktu itu, tahun 717 Masehi, sekalipun ia seorang perempuan tidak menghalangi kecerdasan spiritualnya untuk menembus rasa cinta kepada Allah swt. Dalam karya Sufi Women, Rabi’ah disebut sebagai tokoh perempuan yang bergelut dalam bidang pendidikan. Banyak kisah yang menyebutkan kecerdasanya. Misalnya, dijadikan tempat bertanya dan berdiskusi oleh para ulama saat itu. Sejak belia, ia telah hafal al-Quran, sedangkan ilmu-ilmu lainnya banyak didapat dari berbagai tempat, terutama ketika ia menjadi penyanyi, sehingga ia dapat menguasai beberapa bidang ilmu, khususnya mahabbah, atau pengetahuan yang berkaitan dengan kesucian jiwa, tasawuf.

Benazhir Bhutto, ia merupakan pemimpin perempuan pertama di Negeri Muslim pasca colonial di Pakistan, 1988. Bhutto, perempuan cantik dan kharismatik ini dipilih menjadi perdana menteri sebanyak dua kali periode. Walaupun setiap periodenya ia digulingkan oleh skandal kekuasaan presiden Pakistan.

Cut Nyak Dien, merupakan pemimpin pasukan perang melawan Belanda Meulaboh aceh. Ia bersama suami keduanya, teuku Umar berusaha menyerang Belanda. Namun, Teuku Umar lebih dulu gugur, kemudian dengan sisa tanaga, Cut Nyak Dien berjuang bersama pasukan kecilnya untuk melawan penjajah belanda. Ia meninggal di tahun 1908 dan dimakamkan di Gunung puyuh.

Dengan demikian, untuk menjadi perempuan yang pantas memimpin maka, perempuan harus cerdas lahir batin, berjuang dalam kebenaran dan bertanggungjawab, karena kesuksesan dan kegagalan menjadi seorang pemimpin bukan karena jenis kelamin, tetapi karena integritas dan kapabilitasnya.


Siti Latifah, Ketua PW IPPNU Jawa Barat dan Mahasiswa Pascasarjana Univeritas Islam Nusantara Bandung

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top