skip to Main Content

Menjaga Jari, Menggiatkan Literasi

Oleh: Siti Fatonah

Membaca bukan sekedar mengeja kata, merangkai frasa atupun menyimpulkan makna. Namun, lebih dari itu kegiatan membaca harus terintegrasikan dengan kehidupan nyata. Arus informasi yang kini tak tebataskan, menuntut semua pihak untuk melek dan peduli. Bukan hanya pada manfaat kemajuan teknologi, akan tetapi pada konten ataupun isi yang tak bisa dibendung maupun dihindari.

Perkembangan teknologi begitu membahagiakan, apalagi bagi para pencari maupun penikmat informasi. Dengan perkembangan teknologi yang canggih, membuat informasi dengan cepat dan mudah dinikmat. Namun, masalahnya bukan hanya informasi positif yang dijajarkan. Informasi yang kebenarannya masih harus dipertanggung jawabkan datang tanpa diundang. Terkadang informasi tersebut menyesakkan dada karena mengandung ujaran kebencian, unsur sara bahkan sampai meyinggung urusan agama. Hingga mengandung ajakan untuk membenci, yang menimbulkan perpecahan dan aksi saling benci.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih tersebut, membuat informasi dengan mudah kita temukan. Kebebasan berpendapat pun semakin tak tersekat, dengan mudah kita dapat  menulis apa saja, diamana saja. Layana platform pun semakin mudah kita akses dan dapat menulis apa saja yang kita inginkan. Tinggal klik, menulis apa pun dan menguploadnya di daring, tulisan kita pun akan dapat dibaca, dibagikan bahkan dikomentari oleh banyak orang. Kemajuan informasi dan teknologi akan hampir membuat kita tidak tersekat, antara dunia nyata dan dunia maya. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi tatanan kehidupan sosial kita.

Berdasarkna laporan yang diberikan oleh Wearesucial, terdapat fakta yang mencengangkan. Yakni jumlah pengguna internet dunia mencapai 4.021 Miliyar atau separuh manusia di bumi menggunakan Internet. Tidak kecuali  Indonesia, yang mencapai 132 juta orang atau sekitar 50% dapat mengakses internet; jumlah tersebut mengakses internet menggunakan ponsel pintar (Smartphone).

 

Bukan hanya mengenai akses internet yang dapat dilakukan dihampir separuh penduduk bumi, Wearesucial pun menambahkan bahwa rata-rata penduduk dunia mengggunakan internet selama 6 jam perhari untuk mengakses internet. Jika durasi ini dikalikan dengan jumlah pengguna internet dunia, maka durasi pengguna internet untuk seluruh manusia yang ada di dunia bisa mencapai lebih dari 1 miliyar jam untuk menggunakan online dan berselancar di daring. Dalam hal ini, Indonesia menempati peringkat dunia dengan durasi rata-rata menggunakan internet selama 8 jam 51 menit setiap harinya.

Data yang disampaikan oleh Wearesucial tentunya menjadi catatan, juga menjadi tantangan bagi kita semua. Apakah kita sudah menggnakan layanan internet dengan bijak atau belum? Apakah kita sudah memanfaatkan kemudahan mengakses internet dengan positif atau belum?. Masih menurut data yang disampaikan oleh Wearesucial, bahwa jumlah pengguna media sosial dunia mencapai 3,196 miliyar. Indonesia mencapai 49% dari jumlah penduduknya dan Indonesia menempati urutan ke tiga pengguna media sosial terbesar yakni sekitar 23% atau sekitar 24 juta penduduk.

Dengan data seperti tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kegiatan berselancar didaring didominasi oleh kegiatan di media sosial. Terlepas dari kegiatan positif maupun negatif, baik menggunakan media sosial dengan bijak atau malah membuat jebakan dengan mengirimkan berbagai berita palsu atau hoax.

Membiasakan literasi

Peranan kita dalam memanfaatkan kemudahan mengakses internet, tentunya sangat dibutuhkan. Bukan hanya memanfaatkan untuk kemudahan berkomunikasi; seperti memanfaatkan platform WhastApp, Facebook , line ataupun platform yang menyediakan layanan komunikasi baik berbentuk teks maupun suara. Kemudahan mengakses internet, bukan hanya untuk mengekpresikan diri dengan meng-upload photo dengan pose yang narsis ataupun membuat tulisan sesuka hati.

Kemudahan mengakses internet tersebut, bisa kita manfaatkan dengan menambah informasi dan membiasakan literasi. Membiasakan litersi, diera kemudahan informasi menjadi sebuah kebutuhan. Saat jaringan internet dapat diakses dimana saja, informasi dapat diakses kapan saja. Hari ini, kita berada diera banjir informasi, dimana informasi yang kebenarannya dapat dipercaya atau falid dengan berita yang palsu atau hoax bercampur. Tidak sedikit diantara kita, bingung membedakan mana informasi yang benar dengan inforamsi bohong atau hoax. Oleh karenanya, kemampuan membaca kita perlu ditingkatkan, guna membentengi diri agar dapat terhindar dari informasi hoax.

Seperti yang sudah disampaikan pada awal tulisan, bahwa kegiatan membaca bukan sekedar mengaja kata ataupun memfrasa kalimat. Namun lebih dari itu, kita perlu mengaktualisasikan dalam kehidupan nayata. Dengan langkah, memilah informasi yang berasal dari sumber yang nyata. Sumber nayata disini maksudnya, jika kita menggali informasi di daring, pastikan bahwa websie yang kita akses merupakan website yang terpercaya, bukan website yang dibuat untuk buzzer.

Langkah selanjutnya bukan hanya memilih informasai di website atau situs terpercaya, namun memulai langkah literasi dengan menulis berita, opini maupun tulisan ringan yang positif. Hal tersebut bias kita mulai dengan mudah, melalui platform yang menyediakan layanan teks, seperti WhatsApp, Facebook, line, maupun instagram. Kita mulai untuk menulis tulisan ringan yang positif, jika tulisan kita itu mengandung informasi. Kita dapat menambahkan rujukan yang jelas dan terpercaya. Dengan begitu, kita dapat membuat keadaan dimedia soisal atau platform lebih postif, minimal kita melakukan hal tersebut dilingkungan kita. Hal tersebut, mengingatkan, pada sebuah kata mutiara yang kurang lebih isinya “Kita tidak perlu melakukan langkah besar untuk mengubah dunia, dengan melakukan hal kecil saja kita dapat merubah dunia. Minimal dunia kita sendiri dan orang-orang sekitar”

 

 

Menjaga Jari

Kita mungkin ingat dengan sebuah pepatah yang mengatakan “lidah tak bertulang’, pepatah tersebut berati bahwa, kadang perkataan seseorang itu tidak bias dipegang atau perkataan seseorang itu terkadang bohong. Pepatah tersebut, mungkin masih berlaku pada era kemudahan informasi seperti sekarang. Bedanya hari ini, bukan hanya lidah saja yang tak bertulang, terkadang jaripun tidak bertulang.  Maksudnya disini, kita dapat menuliskan apa saja yang kita mau dilayanan platform yang sudah dibahas sebelumnya, kitapun dengan mudah membagikan apa saja yang kita inginkan.

Pada saat seperti ini, seyogyanya kita dapat lebih bijak terhadap jari kita. Tidak selalu jari kita dapat menulis apa yang kita inginkan, kita pun tidak bisa menshare atau mebagikan informasi sesuka hati ini. Kita perlu lebih bijak menggunakan jari kita diera kemudahan informasi.

Dengan kemudahan mengakses informasi tersebut, tentunya kita akan mudah mendapatkan informasi—berbagai informasi apapun. Namun, kita pula tidak bisa dengan mudah membagikan informasi tersebut. Kita perlu mensharing inforamsi yang kita dapatkan, sebelum berita atau informasi yang kita bagikan. Sebaiknya kita mengcek, apakah berita tersebut benar atau hoax.

Cara mudah menganalis apakah berita tersebut hoax atau bukan yakni; kesesuain judul berita dengan isi berita. Selain itu, biasanya judul berita yang hoax bombastis juga sumber dari berita tersebut tidak. Kita memang tidak bisa sepenuhnya mengatasi hoax, namun kita bisa memulainya denga cara kita, dimulai dari diri kita sendiri, lingkungan sekitar kita dengan cara menjaga jari kita agar tidak mudah menulis ataupun menshare berita dengan mudah juga menggiaatkan literasi agar keadaan informasi kita semakin terisi dengan konten-konten positif.

*Tulisan ini pernah diikut sertakan dalam perlombaan menulis bersama FORKOMSI yang bekerja sama dengan LPM UGM dan keluar sebagai opini terbaik

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top