skip to Main Content

Meneladani Umar bin Abdul Azis saat Work From Home

Sejak kasus pandemic Covid-19 melanda banyak negara, termasuk Indonesia. Pemberlakukan dirumah saja digulirkan, segala aktivitas yang bersifat mobilitas dikurangi. Mulai dari belajar secara daring, bekerja di rumah atau istilah kerennya Work From Home (WFH) bahkan sampai beribadahpun dianjurkan dilakukan di rumah.

Dalam sejarah kebidayaan Islam mencatat, bahwa pada masa kejadaan Islam pernah terjadi wabah seperti hari ini yaitu wabah thaun.  Hal tersebur terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, meskipun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis terjadi wabah pademi. Namun, masyarakat pada waktu itu hidup tentra, dan sejahtera. Sehingga jarang banyak orang yang tahu bahwa pada sekitar tahun 100 Hijriyah terjadi pandemic. Lantas bagaimana Khalifah yang terkenal merakyat mematuhi upaya kesehatan?

Sejarah telah mencatat bahwa Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok yang sederhana. Sejak menjadi khalifah, ia meninggalkan kehidupan yang berkecukupan dan justru menjadi seperti rakyat biasa. Sosok ulama sekaligus pemimpin umat yang lebih suka dipanggil amirul mukminin itu meninggalkan istana khalifah dan menempati rumah dinas sederhana untuk bekerja.

Ketika penasihatnya menyampaikan untuk mengikuti protokol kesehatan dengan standar kerajaan berupa karantina di istana agar tidak terpapar wabah, Umar bin Abdul Aziz dengan kreatif memberikan solusi lain yang jitu.

Meskipun tidak berkenan untuk tinggal di istana, beliau tetap menjaga protokol kesehatan di rumah kerjanya yang kecil dengan makanan sehat ala kadarnya dan lebih banyak bekerja mandiri. Sehingga tidak melibatkan staf yang banyak.


Imam Jalaluddin As-Suyuthi menceritakan dalam kitabnya tentang kisah thaun pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Artha’ah bin al-Mundir, dia berkata, “Ada beberapa orang yang mendampingi Umar bin Abdul Aziz memintanya untuk menjaga makanannya serta menyarankannya untuk melakukan isolasi atau karantina mandiri dari thaun. Mereka mengabarkan bahwa para khalifah sebelumnya telah melakukan protokol kesehatan itu. Lalu Umar pun bertanya, ‘Lalu di mana mereka sekarang?’

Ketika mereka mengatakan banyak hal, dia berdoa, ‘Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku lebih takut pada suatu hari selain hari Kiamat, maka janganlah Engkau memberiku keamanan dari ketakutanku itu.” Kisah ini tercantum dalam Kitab Ma Rawahu al-Waun fi Akhbar ath-Tha’un karya Imam Suyuthi (Penerbit Darul Qalam, Damaskus tanpa tahun: hal 188).

Yuhansyah Nurfauzi, anggota Komisi Fatwa MUI Cilacap, apoteker dan peneliti di bidang farmasi, dalam artikelnya yang dipublikasikan laman resmi Nahdlatul Ulama menjelaskan bahwa makna dari riwayat tersebut bukan berarti Umar bin Abdul Aziz mengabaikan protokol kesehatan.

Beliau tetap berusaha menghindari kerumunan dengan tinggal di rumah kerja khusus yang sederhana. Kondisi ini sekarang dikenal dengan istilah work from home (WFH) atau bekerja dari rumah. “Karena beliau seorang pejabat, maka WFH dilakukannya dari rumah dinas,” tulisanya.

Rumah dinas Khalifah berbeda dengan rumah pribadi. Tidak ada banyak pelayan yang mengurus beliau dan tidak ada seorang penyair pun yang mengerumuni sambil menghiburnya sebagaimana umumnya raja di istana. Bahkan, untuk kunjungan kerja saat turun ke bawah melihat rakyatnya, beliau lebih suka menyamar sehingga tidak ada konvoi pengawalan dari pasukan maupun sambutan dari rakyat ramai.

Meski menolak tinggal di istana megah dan menolak makan makanan kerajaan, Umar bin Abdul Aziz berupaya menerapkan protokol kesehatan dan diet dengan caranya sendiri.

Khalid Muhammad Khalid dalam kitabnya menuliskan bahwa menu makan malam Amirul Mukminin itu hanya roti kering, sepiring kacang adas, dan garam. Menu itu juga tidak jauh beda dengan yang dimakan istri dan anak-anaknya yang terbiasa makan malam dengan kacang adas di rumah pribadinya. Kisah ini disebutkan dalam kitab Khulafaur Rasul karya Khalid Muhammad Khalid (Kairo: Darul Muqattam, 2003: 369).

Sikap dari Khalifah Umar bin Abdul Azis tersebut tentunya menjadi teladan untuk kita semua, yang hari ini masih menghadapi pandemic covid-19 untuk menantiasa menjaga diri dan keluarga dengan berkhirtiar mengurangi mobilitas. Serta terus menjaga asupan makanan dengan makan maknana yang bergizi yang tentunya bersikap sederhana tidak berlebihan bahkan bersikap panic buying dengan memborong bahan makanan secara berlebihan.

Wallahu ‘alam


Dilasir dari: NU Online dan dilakukan perbuahan sesuai dengan kebutuhan

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top