skip to Main Content

LITERASI SEBAGAI MEDAN JIHAD ERA MODERN

Oleh: Abdul Hanif

PENDAHULUAN

Tuhan memberikan kenikmatan yang sempurna kepada makhluk ciptaan-Nya. Kenikmatan tersebut berupa akal, dimana akal sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya (hewan). Tuhan memberikan keistimewaan akal kepada manusia (basyar) untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Namun, pada realitasnya, ada sebagian manusia yang menjalankan amanat tersebut dengan baik, adapula yang tidak menjalankan amanat yang telah diberikan oleh Tuhan.

Akal yang dipergunakan sebagaimana mestinya akan tercerminkan dalam kehidupan sehari-hari, ia bisa menjelma dalam hubungan interaksi sosial, hubungan baik antara manusia dengan manusia, antara agama dengan agama, maupun dalam kehidupan sosial kultur-budaya.

Perkembangan zaman secara dinamis mengubah tatanan kehidupan sosial secara masif. Hal ini terlihat pada kehidupan kita hari ini, dahulu manusia untuk mendapatkan informasi-informasi yang berkenaan dengan perekonomian, politik, budaya, agama bahkan negara, mereka bersungguh-sungguh untuk mendapatkan informasi tersebut melalui media cetak. Namun, hari ini, masyarakat untuk mendapatkan informasi-informasi tersebut dengan sangat mudah tanpa susah hanya melalui sosial media dan memainkan jari-jemarinya di layar sentuh.

Maraknya sosial media yang berkeliaran di setiap individu serta informasi-informasi yang didapatkan secara instan-konsumtif, membuat tatanan kehidupan sosial kerap menjadi gaduh bahkan menjadi ajang provokasi terhadap manusia yang tidak sepaham dan sependapat dengan komunitas mereka, acapkali sosial media dijadikan sebagai alat untuk memperpecah kesatuan berbangsa dan bernegara. Sudah berapa banyak pristiwa provokasi, perang opini, ujaran kebencian yang dilontarkan melalui aspirasi-aspirasi yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, dan pada akhirnya lagi-lagi masyarakat awam menjadi maf’ul bih demi memperoleh kepuasan pribadinya maupun golongannya. Hal ini sangat disayangkan dan sangat tidak manusiawi.

Oleh sebab itu, berkolerasi dengan peristiwa yang disampaikan oleh penulis di atas, kita sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU) harus bisa menjaga harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah saatnya, Pemuda Pemudi dari kalangan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) bangun dan bangkit untuk meluruskan dan meng-ishlah-kan pemahaman serta perang opini tersebut. Salah satu cara untuk menagkal hal tersebut kita harus paham dan mengusai sosial media dengan menuliskan berita-berita yang faktual, membenarkan pemahaman tersebut melalui sumber rujukan kitab turos. Hal ini adalah medan untuk mempersatukan umat agar kehidupan bernegara dan berbangsa hidup rukun dan harmonis serta terwujudnya maqoshid al-syariah yaitu hifd al-din dan hifd al-nafs.

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI

Sebagaimana telah dipaparkan oleh penulis dalam pendahuluan. Bahwa perkembangan zaman dengan adanya teknologi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa menuntut kepada semua elemen untuk bisa beradaptasi dengan kecanggihan teknologi. Jika tidak pandai untuk mempergunakan teknologi maka kehidupan akan tertinggal, hal ini menjadi sebuah tantangan bagi warga negara Indonesia.

Allah Swt pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril Alaihissalam yaitu surat al-‘Alaq, pada permulaan surat tersebut Allah memerintahkan kepada umat manusia yaitu “bacalah”, khitab bacalah tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa manusia sebagai makhluk-Nya yang sempurna haruslah bisa membaca, membaca bukan hanya diartikan secara tekstual untuk membaca saja. Namun jauh dari itu. Dewasa ini, berkenaan dengan perintah “bacalah” maka kita harus membaca apa saja yang dibutuhkan oleh negara maupun masyarakat  di saat mewabahnya ujaran kebencian yang disampaikan melalui sosial media, perang opini yang dilontarkan oleh komunitas terhadap komunitas lainnya yang tidak sesuai dengan realitasnya. Bahkan, ujaran kebencian disampaikan di atas namakan atas nama agama dan syari’at.

Tindakan di atas sangat ironi sekali. Pada waktu yang bersamaan, dalil-dalih menyampaikan dakwah namun dakwah disampaikan dengan cara yang bathil, seharusnya dakwah disampaika secara hikmah, mengajak umat untuk selalu bersatu, berlomba-lomba dalam kebaikan, namun hal ini tidak sesuai dengan harapan agama yang luhur, semua itu hanya mewariskan kebencian terhadap sesama manusia bahkan sesama muslim yang tidak sependapat dengan mereka. Sungguh sangat disayangkan.

Sudah seharusnya kita sebagai aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahldiyyah, sudah sepatutnya untuk menjadikan sosial media menjadi ladang jihad pada era modern ini, sebab, jika bukan kita sebagai warna Nahdlatul Ulama (NU) yang meng-ishlah akan pemahaman dan ujaran kebencian bahkan perang opini yang disampaikan oleh komunitas mereka di sosial media, maka akan terjadi kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat. Jika hal ini terus berlarut berkepanjangan. Maka akan mengakibatkan ketegangan dalam bermasyarakat dan beragama. Oleh karenanya, siapa lagi jika bukan kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) yang meneruskan estafeta Islam yang ramah yang telah dibawa oleh para leluhur kita, yang telah dibawa para Wali Sanga (9 wali). Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari pemahaman-pemahaman yang merusak tatanan beragama dan berbangsa.

Maka, sudah saatnya pemuda-pemudi Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan sosial media menjadi medan jihad dalam era modern ini, agar pemahaman-pemahaman yang tidak mengindahkan nilai-nilai Islam tersingkirkan dari negeri Indonesia. Sudah saatnya kita bangkit dan menguasai sosial media agar terciptanya baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur, jika negara sudah tercipta menjadi negara yang adil dan makmur, maka akan terwujudlah persatuan dan kesatuan (hifd al-din dan hifd al-nafs) dalam bingkai NKRI.

Oleh karenanya, mari saring sebelum sharing, mari menulis. Menebarkan satu kebaikan sama saja menghapus seribu kebencian dalam sosial media serta menghilangkan “jahalah”. Mari asah minat membaca dan menulis agar menjadi manusia yang ulul al-bab.


Penulis merupakan mahasiswaw Pasca Sarja UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan aktif menulis diberbagai media

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top