skip to Main Content

KH AE Bunyamin, Pejuang NU di Tengah Tekanan Orba

KH AE Bunyamin. (Foto: LPP IPNU Tasikmalaya)

Oleh Husni Mubarok 

Tasikmalaya berduka ditinggal sesepuhnya, KH AE Bunyamin yang wafat Senin 21 Desember kemari. Disebut sesepuh karena memang ia berusia 81 tahun saat wafatnya. Tapi sesepuh bukan sekadar usia, melainkan sesepuh dalam pengabdian dan perjuangan.  Beliau dikenal sebagai tokoh yang tak kenal lelah berjuang di NU walaupun ditinggalkan reakan-rekannya, terutama ketika peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Ia menjadi saksi sejarah bagaimana NU mendapat tekanan dari rezim saat itu.

Dikutip dari wawancara program Ngokoh (Ngobrol Bareng Tokoh) di Youtube channel RKP Official produksi IPNU dan IPPNU Kabupaten Tasikmalaya, beliau merupakan ketua PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya 1968-1977. Tahun-tahun antara 1965-1970 ini menjadi berkah tersendiri bagi kaum muda NU dimana masa masa ini dengan bermodalkan KTA NU atau GP Ansor dengan mudah bisa diterima menjadi Kopasus atau tentara.

“Masa ini negara sangat percaya pada NU karena NU dianggap bersih dari pengaruh pengaruh PKI dan tidak berbahaya bagi negara sehingga seluruh kegiatan dan kaderisasi sangat gencar dilaksanakan termasuk IPNU menggalakkan Training Centre (TC) se-Kabupaten Tasikmalaya yang terdiri dari 39 kecamatan sebagai kaderisasi awal organisasi,” kata Kiai AE

Namun memasuki tahun 1971 menjadi musibah bagi NU dan banomnya dimulai karena berdirinya Golongan Karya (Golkar) dengan istilah NU di-buldozer menghadapi pemilu 1971. Semua orang dipaksa harus bergabung Golkar dan menjadikan warga NU sampai para kiai takut menjadi penggerak NU. Beberapa kecamatan di Tasikmalaya sampai ranting-ranting NU satu per satu membubarkan diri karena beberapa tekanan dan ketakutan bahkan kai kiai memilih tiarap atau pindah kota.

Beberapa aktivis IPNU pun satu per satu menghilang ketakutan dan kondisi organisasi mulai tak karuan sehingga orang yang masih aktif seperti Kiai AE harus rangkap jabatan mengisi posisi organisasi yang ditinggalkan. Namun memasuki tahun 1971 menjadi musibah bagi NU dan banomnya dimulai karena berdirinya Golongan Karya (Golkar) dengan istilah NU di-buldozer menghadapi pemilu 1971. Semua orang dipaksa harus bergabung Golkar dan menjadikan warga NU sampai para kiai takut menjadi penggerak NU.

Beberapa kecamatan di Tasikmalaya sampai ranting-ranting NU satu per satu membubarkan diri karena beberapa tekanan dan ketakutan bahkan kai kiai memilih tiarap atau pindah kota. Beberapa aktivis IPNU pun satu per satu menghilang ketakutan dan kondisi organisasi mulai tak karuan sehingga orang yang masih aktif seperti Kiai AE harus rangkap jabatan mengisi posisi organisasi yang ditinggalkan.

KH AE Bunyamin pun harus mengisi empat jabatan sekaligus dalam satu periode yaitu Ketua PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya, Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Ketua MWCNU Indihiang, dan Ketua Ranting NU Sukaratu. Waktu itu, ASN yang tetap memilih bertahan di NU dan menolak bergabung Golkar pun dipindahkan ke perkotaan dan tidak dikasih pekerjaan sehingga menimbulkan ketidakjelasan masa depannya.

“Tahun-tahun ini terkadang ber-NU itu sama saja dengan mempertaruhkan masa depan,” jelasnya.

Kiai AE yang ketika itu juga sebagai ASN yaitu sebagai guru dengan teguh mempertahankan keayakinannya ber-NU dengan persiapan dirinya akan dipecat atau dipindahtugaskan ke daerah lain yang tidak menentu, namun tekadnya dalam memegang perjuangan tak pernah tergoyahkan. Beliau tetap yakin bahwa NU adalah jalannya.

Dalam catatan sejarah IPNU Tasikmalaya, Kiai AE Bunyamin merupakan Ketua IPNU Kabupaten Tasikmalaya yang paling lama menjabat selama sembilan tahun. Hal ini dikarenakan tidak ada orang yang mau menggantikan dirinya menjadi ketua karena takut bertentangan degan situasi politik kala itu. Kaderisasi TC (training center) yang merupakan amanat organisasi dilakukan secara tertutup dengan konsep seperti pengajian untuk menghilangkan jejak dari para tentara yang terus berjaga dan memonitor seluruh kegiatan.

Situasi ini pun sempat menjadi pembahasan pada pada Kongres VII IPNU  di Semarang, Jawa Tengah, pada 20 -25 agustus 1970, situasi nasional mengalami perubahan rezim, dari Orde Lama ke Orde Baru (Orba). Selain berbagai keputusan internal, kongres juga memberikan respons politik terhadap Orba yang menunjukkan watak otoritarian-birokratik, mengkritisi militerisme, dan mendesak penaikan anggaran pendidikan 25% dalam APBN.

“Sampai saat ini saya merasa sangat Bahagia dan semangat ketika bertemu dengan IPNU karena merasakan perjuangan ada yang meneruskan,” ungkap Kiai AE.

Selamat jalan, Kiai…

Penulis adalah Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kabupaten Tasikmalaya
Dilasari dari
: https://jabar.nu.or.id/detail/kh-ae-bunyamin–pejuang-nu-di-tengah-tekanan-orba

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top