skip to Main Content

Keistimewaan Ibadah Kurban

Oleh: KH. Agus Syarif Hidayatullah

Ibadah Kurban adalah sesuatu yang sakral. Manusia pertama Adam a.s. menyaksikan kesakralan kurban itu yang dilakukan anak-anak lelakinya. Salah satu diterima dan satunya lagi ditolak.  Perjalanaan keturunan anak-anak Adam terus menerus mewariskan ibadah yang dianggap salah satu ibadah tertua. Ibrahim a.s. dengan kisah heroiknya terhadap nyawa putranya Ismail a.s. menjadikan tonggak Ibadah dimana kepasrahan, ketawakalan menjadikan pondasi dasar dalam berkurban. Dari Tuhan menuju Tuhan. Begitupun Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad Saw. Pernah mengurbankan puluhan Onta dan ini adalah kurban yang sangat banyak.

Ibadah Kurban hanya dilakukan pada bulan dan hari yang ditentukan, tentunya sangat istimewa, hanya dibulan Dzulhijah bulan yang agung nan suci dan terbatas kepada tanggal 10, 11,12 dan 13 saja. Jadinya harus menunggu setahun melakukan ibadah nan agung ini.  Rasulullah Saw pun dalam keterangannya megancam, “Barang siapa yang mempunyai kesempatan kemudian tidak berkurban maka jangan mendekati musholla kami”. Setidaknya Imam Syafi’i berisntinbath dan menyimpulkan dengan ancaman Rasulullah tadi menjadi sunnah muakkadah.  

Sungguh beruntung kaum muslimin yang bisa melakukan ibadah kurban terutama saat pandemi ini masih menjangkit sebahagian masyarakat Indonesia, bukan saja nilai transcendental vertical yang diharapkan secara ruhani, akan tetapi nilai-nilai soSial menjadi lebih dirasakan, dimana efek dari pandemic yang menyebabkan kesulitan secara ekonomi terasa nyata.   

Rasulullah saw ingin ummatnya merasakan kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan di dalam menjalani hari Id, bahkan sesuatu yang biasanya dirasakan tidak pantas dilakukan menjadi sesuatu yang boleh dihadapan Rasulullahh Saw. Id adalah kegembiraan, menggembirakan dan menyenangkan Ummat Rasulullah Saw bukankah sesuatu yang membuat senang Rasulullah Saw.  Itu sendiri. Memperpanjang  waktu penyembelihan di waktu Tasyriq juga adalah tasyri’ kemudahan bagi yang tidak sempat menyembelih dihari Idul Adha. Betapa Harmoni Ibadah sakral itu menjadi muatan sosial yang begitu berharga. Allah sudah mengaturnya agar Umat Islam saling berbagi kebahagiaan.

Bulan yang agung, hari yang agung dengan nilai-nilai ibadah diawal bulan dzulhijjah merupakan karunia sekaligus keistimewaan ummat Islam. Dimana sebahagian saudara kita dikaruniai melaksanakan ibadah Haji, maka sebahagian ummat Islam lain bisa melakukan ritual suci, dengan puasa tarwiyyah, arafah dan berkurban. Selalu diberi kesempatan ibadah bagi siapapun yang merasa beriman. Dan tentunya Allah swt. tidak menginginkan daging, kucuran darah hewan kurban,  Allah hanyalah melihat “ketaqwaan” yang menyelimuti hamba hamba Allah yang melakukan ritual tersebut.

Wallahu a’lam

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top