skip to Main Content

Kartini dan Tafsir Fāiḍ al-Raḥmān :

oleh: Mubarok ibn al-Bashari (Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA)

Pada setiap tanggal 21 April, kita memperingati hari seorang pahlawan kebangkitan perempuan era kolonial, dia adalah R.A. Kartini. Kartini sebagai seorang muslimah, ia juga pernah belajar agama dan mengalami perjalanan spiritual. Lantas, apa hubungan Kartini dengan tafsir Fāiḍ al-Raḥmān?

Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini merupakan seorang muslimah yang taat. Dia belajar Islam karena ingin memperbaiki citra agamanya atas nama ketauhidan dan kemanusiaan.

Sejalan beriringan, ia mengalami suatu perjalanan spiritual dengan gurunya, al-‘Ālim Syaikh Muhammad Ṣāliḥ ibnu Umar as-Samārānī al-Jāwī asy-Syafi’i atau yang lebih dikenal Saleh Darat.

Dalam ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ , Surat yang bertarikh 6 Nopember 1899 itu menjelaskan betapa Kartini tidak cocok dengan agamanya. Katanya, “Sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh mengenalnya? Quran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana juapun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Quran, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetap tidak diajarkan makna yang dibacanya itu.

Dari pernyataan di atas, Kartini menyatakan malas membaca Al-Quran. Bagaimana ia diuji oleh Allah Swt. dalam hatinya timbul rasa pertentangan Alquran hanya dibaca tetapi tidak memaknai kandungan isinya.

Sebenarnya Kartini tak mendapatkan pengetahuan agama yang memadai. Namun, dasar orang haus pengetahuan, ia senantiasa belajar. Sekitar tiga tahun kemudian setelah suratnya kepada Stella Zeehandelaar, wanita Yahudi pegiat feminis Belanda, di atas pandangannya terhadap Islam berubah.

Pengalaman Spiritual Kartini

Selama itu, Kartini menyadari ternyata ia bebal dan angkuh. Namun, ia bersyukur bahwa dalam perjalanan hidupnya ia bisa menemukan Tuhan. “Betapa aman sentosanya di dalam diri kami sekarang ini, betapa terima kasihnya dan bahagianya, karena sekarang ini telah mendapat Dia; karena kini ini kami tahu, kami rasa, bahwa senantiasa ada Tuhan dekat kami, dan menjagai kami,” tulisnya pada 15 Agustus 1902.

Saiful Umam, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, melakukan penelusuran dalam “God’s Mercy is Not Limited to Arabic Speakers” yang dimuat jurnal Studia Islamika vol. 20, 2, 2013, pertemuan itu terjadi di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat.

Pangeran Ario Hadiningrat adalah paman Kartini. Mungkin, karena ia sering ke rumah pamannya itu, Kartini dan Kyai Saleh Darat bertemu. Kyai Saleh Darat memberikan pengajian di Pendopo Sang Bupati. Pertemuan-pertemuan inilah yang menjadi titik balik pandangan Kartini tentang Islam.

Tatkala dalam salah satu pertemuan dengan Kartini, Kyai Saleh Darat meng-hibahkan semua kitab-kitabnya yang berbahasa Jawa, salah satunya kitab tafsir Fāiḍ al-Raḥmān fī at-Tarjamah Tafsīr al-Kalām al-Mālik ad-Dayyān. Kitab tafsir dan terjemahan ini merupakan kitab tafsir pertama Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Melalui Kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh kalbunya. Pada Alquran surah al-Baqarah ayat 257, Allah berfirman:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” [Q.S. al-Baqarah: 257]

Kyai Saleh Darat menerangkan bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (min aulumāti ilā an-nūr). Hakikat ayat ini membuat Kartini terkesan karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kata Kartini, “Seorang tua (Kyai Saleh Darat) di sini karena girangnya, menyerahkan kepada kami semua kitab-kitabnya naskah bahasa Jawa, banyak pula yang ditulis dengan huruf Arab. Kami pelajarilah kembali membaca dan menulisnya.”

Berkat perjumpaan dengan Kyai Saleh Darat inilah Kartini semakin kukuh dengan agamanya. Kita bisa simak, misalnya, pada surat bertanggal 21 Juli 1902 kepada Nyonya Abendanon Kartini menulis: “Yakinlah nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami patut disukai.”

Kisah ini menunjukkan betapa Allah membukakan hidayah-Nya kepada Kartini, melalui kajian tafsir Fāiḍ al-Raḥmān karya gurunya, yaitu Kyai Saleh Darat.

Wallāhu a’lām….

 

Sumber: https://islamkaffah.id/kartini-dan-tafsir-faiḍ-al-raḥman/amp/

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top