skip to Main Content

HIKMAH CORONA: MELESTARIKAN BUDAYA LELUHUR

Oleh: Abdul Hanif

Setiap manusia pasti pernah merasakan sakit. Entah hanya sekedar sakit ringan maupun sakit berat. Ya, semuanya pernah merasakan hal demikian. Sama halnya penyakit yang sedang melanda di segenap masyarakat Indonesia dan umumnya masyarakat global. Penyakit yang sedang kita hadapi ini bukan permasalahan yang ringan, namun permasalahan yang besar yang banyak merenggut nyawa penduduk bumi. Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita selalu disodorkan dengan informasi terkait penyakit tersebut dengan jumlah kuantitatif yang telah meninggal. Bukan hanya merenggut banyak nyawa. Lebih dari itu. Banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Belum lagi pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar). Pemberlakuan sistem tersebut dijadikan sebagai pedoman dalam bersosial masyarakat semata-mata hanya untuk mashalihul ibad dan sihhatul jami, adanya pemberlakuan sistem tersebut memang sangat penting. Akan tetapi, bagi sebagian kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, mereka merasa tersiksa dengan adanya pemberlakuan sistem tersebut. Lantas, dimana dan kemana mereka harus mencari secuap rizki untuk menghidupkan keluarganya ? ini sangat ironi sekali dan sungguh menyentuh hati kita. Mungkin sebagian di antara kita pun ada yang merasakan hal tersebut. Namun apa daya dan upaya. Demi kemaslahatan umum. kita harus saling mendukung terkait program tersebut. Sebagaimana kaidah fikh menyatakan “المصلحة العامّة مقدّمة على المصلحة الخاصّة” yang artinya “Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan yang sifatnya individual”. Tentu, dalam hal ini, kita sebagai manusia yang ulul al-bab harus memperhatikan kehidupan masyarakat secara arif dan bijaksana. Di balik wabah ini, ada beberapa nilai-nilai positif yang pudar dari tradisi.

Hikmah dengan adanya wabah pada saat ini banyak sekali yang bisa kita ambil sebagai ibrah, antara lain: (1). mengintropeksi/mawasdiri dengan apa yang sudah kita kerjakan selama di dunia. Sudah sampai tingkat apa ketakwaan kita selama ini, sudahkah kita mengamalkan nilai-nilai risalah Tuhan dan risalah yang dibawa oleh nabiNya? sudah berapa banyak seruan-seuran nasihat agama yang terkandung dalam firmanNya yang kerap acap kali kita acuhkan. Bahkan naudzhubillah sampai membangkang nilai-nilai dan seruan yang terkandung di dalamnya! Sungguh, dengan adanya wabah ini, membuat kita sadar, bahwa tak selamanya manusia hidup dalam keadaan jaya. Adakalanya manusia harus merasakan apa yang dirasakan oleh kaum marginal yang memperjuangkan hidupnya di emperan jalan, bahkan sampai harus tertidur di tempat yang tak layak untuk dihuni oleh manusia. (2)perhatian terhadap keluarga, ya. Mungkin selama ini, selama kita menjalin rumah tangga. Kita sering kali mengabaikan firman Tuhan yang berbunyi “Jagalah diri kalian, dan keluarga kalian dari siksa api neraka”. Firman Tuhan tersebut menyeru kita agar selalu memberikan perhatian yang penuh terhadap keluarga. Entah dari moralitas anak-anak kita yang kurang kita perhatikan, entah dari pendidikan dan pergaulan anak kita yang mungkin selama ini kurang kita perhatikan, menjadikan mereka salah bergaul, bahkan salah dalam memilih lingkungan. Sebab lingkungan sangat berpengaruh bagi mereka. Sehingga denga adanya wabah ini, menjadikan pribadi kita sebagai pemimpin dalam rumah tangga mengoptimalkan perhatian kita kepada mereka. Sebagai intropeksi selama kita disibukkan di luar sana dengan berbagai macam aktivitas.

Sudah hampir beberapa hari ke belakang, muslim di Indonesia menjalankan aktivitas kesehariannya melalui kecanggihan teknologi. Ya, mulai dari aktivitas di pemerintahan, perkantoran, karyawan, tenaga pendidik dan kependidikan, hingga wiraswasta menjalankan kehidupannya pada saat ini dengan menggunakan teknologi tersebut. Semenjak mendapatkan surat edaran dari Pemerintah,  hampir seluruh masyarakat menjalankan aktivitasnya di rumah. Mulai dari hal kecil yaitu membeli sesuatu menggunakan aplikasi hingga dalam belajar-mengajar pun menggunakan aplikasi yang bisa mewadahi untuk tetap berjalan kegiatan belajar-mengajar. Tentu dengan didampingi oleh kedua orangtuanya. Inilah salah satu hikmah yang dapat diambil oleh kita semua. Dengan adanya wabah ini, kita bisa lebih leluasa untuk mengkaji diri dan melek akan canggihnya sebuah teknologi. Jika kita tidak melek akan teknologi maka kita akan tenggelam dalam kebodohan.

Hadirnya pandemi menuntut pendidik agar lebih berinovasi dalam mentransfer ilmu kepada murid. Dahulu, para masyayikh mengajarkan ilmunya kepada murid menggunakan kitab-kitab rujukan yang sering disebut sebagai kitab turots (gundul). Kitab tersebut diajakarkan oleh masyayikh menggunakan metode konvensional. Artinya, seorang guru menyampaikan ilmu dengan saling berhadapan. Layaknya raja dan rakyat. Tentu dengan rasa takdzim seorang murid terhadap gurunya. Namun perkembangan zaman pada saat ini. apalagi dengan tuntutan zaman, teknologi hampir menguasai di berbagai bidang aktivitas kehidupan. Dari transaksi jual beli, sewa-menyewa, pinjaman, pembiayaan semuanya sudah hampir menggunakan teknologi digital.

Dalam dunia pesantren, kita mengenal betul ketika bulan ramadhan tiba, maka pihak pesantren mengadakan “Pengajian Pasaran” dimana, pengajian ini dilakukan di lingkungan pesantren dengan memasarkan kitab-kitab yang ingin dikaji dan dikhatamkan selama bulan ramadhan. Dan biasanya pengajian ini dilakukan secara konvensional.

Sudah terbukti hari ini, semua masyayikh mengkaji kitab-kitab kuning mulai dari diberlakukannya PSBB semuanya mengkaji kitab dengan mengoptimalkan di jejaring sosial. Mulai dari pengajian rutin bahkan sampai pengajian pasaran pun diadakan dengan memanfaatkan teknologi. Salah satunya dengan menggunakan jejaring sosial media. Hal ini harus dikuasai oleh warga NU (Nahdlatul Ulama) sebagai benteng dalam menjaga tradisi kepesantrenan. terkhusus dalam pengkajian kitab turots. Sudah semestinya kita sebagai penerus warisan para nabi meneberkan ilmu dengan menguasai teknologi. Menurut hemat penulis, hari ini, ilmu dan teknologi adalah dualisme yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, hari ini berbagai macam kitab bisa didapatkan melalui media teknologi. Oleh karenanya, agar pesan Islam yang terkandung di dalam firman maupun risalahnya dapat ditebarkan di sosial media dengan cara kedamaian, Islam yang menebar keramahan, Islam yang menebar kasih dan sayang dan Islam yang menebar persatuan dan kesatuan. Maka, kita sebagai Penerus, sudah saatnya kita bangkit dalam dunia teknologi masa kini. Jika bukan kita yang meneberkan secara damai siapa lagi? Jika bukan kita yang menguasainya siapa lagi? Jika bukan kita yang menebar Islam ramah siapa lagi?

Hal demikian senada dengan kaidah fikh mengatakan

“المحافظة على القديم الصالح و الاخذ بالجديد الاصلح” yang artinya “Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik”. ini substansi yang menjadi patokan dan pijakan dalam hidup kita. Semoga semua kolega dari warga Nahdliyin bisa menjalankan dan menjadikan tradisi ngaji kitab via jejaring sosial atau sosial media terus dilakukan.

Wallahu ‘alam!


Abdul Hanif, Abdul Hanif, Nahdliyyin asal Kota Bekasi. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top