skip to Main Content

Hijrah jangan sekeder trend

Uku Masa Hijrah Begitu, Karya : Edi AH Iyubenu Edi (Koleksi Pribadi)
Judul : Masak Hijrah Begitu?
Penulis : Edi AH Iyubenu
Penerbit : DIVA Press
 ISBN : – Tebal : 264 hlm
Tahun : 2020
[Blur]
Mau disebut gerakan hijrah maupun taubat saja atau bahkan tanpa embel-embel apa pun juga, bila menimbulkan pertikaian, itu niscaya bukanlah bagian dari kehakikian Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan tuntunan Rasul Saw yang diutusNya untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Begitu pun sebaliknya, mau disebut gerakan hijrah maupun taubat saja atau bahkan tanpa embel-embel apa pun juga, jika buahnya ke dalam diri ialah makin runduknya hati kepada semata Kemahakuasaan Allah Swt—ditandai kepatuhan syariat dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya—dan buahnya ke luar diri, orang lain dan seluruh makhlukNya, ialah kerendahan hati dan ketawadhu’an, itulah dia kehakikian iman, takwa, dan ihsan cum akhlak karimah.
Semoga niat baik semua kita untuk menujuNya, dalam segala keragaman jalannya, diridhaiNya dalam samudra ampunanNya dan Rahman RahimNya yang maha tak tepermanai.

Akhir-akhir ini istilah “hiijrah” muncul dengan cukup populer. Kemudian istilah tersebut menjadi sebuah gerakan yang menghentakkan suatu dambaan sekelompok orang dan menjadi dambaan paripurna bagi perjalanan hidup seseorang. Pada dasarnya, istilah “hijrah” ini menjadi hits adalah hal yang wajar, karena bagian dari dinamika kehidupan manusia. Sejatinya, jika kita meruntun sisi histrori, istilah “hijrah” muncul pada saat Nabi berimigrasi dati Mekah ke Madinah, sebagai sebuah gerakan berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Ada maksud untuk terciptanya masyarakat yang mampu bergerak secara dnamis dan tetap menjalankan misi ke Islaman yani, mewujudkan keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusaian yang universal.

Akan tetapi, praktik hijrah hari ini, menjadi sedikit melenceng dari misi Islam tersebut. Dalam bukunya, Pak Edi mengambarkan fenomena “hijrah” hari ini menyebar pada ranah yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islami, yang melenceng dari Khittah Islam itu sendiri sebagai agama yang Rahmatan Ll ‘Alamin. Lebih lanjut, Pak Edi menyebutkan bahwa perilaku “hijrah” hari ini yang melemparkan pada kemegahan dunia yang telah mapan atas nama Islam yang hakiki dan menyebutkan bahwa berada dalam hidup derita merupakan status mukmin yang sejati. Padalah, hal tersebut bukanlah parameter tunggal bagi ke-Kaffah-an iman dan takwa (halaman:207). Lebih lanjut, dalam raktek “hijrah” hari ini, tidak sedikit ditemukan fenomena bahwa pemahaman dan aplikasi yang salah pada konsep amar ma’ruf nahi munkar atas perilaku diri, kemudian dengan mudahnya mengkafirkan seseorang lantara tidak sepaham degan dirinya. Padahal, yang perlu digaris bawahi dan dingat kembali bersama. Bahwa perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan berselisih merupakan sebuah pilihan. Jadi, tidak selamanya perbedaan itu harus disikapi dengan perselisihan apalagi dengan pertengkaran, perpecahan dan permusuhan.

Manusia yang hanya pemeran skenario Tuhan sungguh tidak pantas mengklaim otoritas Tuhan sebagai penentu baik buruk (hlm:15)

Lebih lanjut Pak Edi menyebutkan bahwa Amar ma’ruf nahi munkar mengandung amanat luhur yang terspesialisasikan hanya untuk sebagian mukmin yang memiliki kualitas dan kapabelitas serta hak hukum semacam ulil amri dan para ahli ilmu (ulama), serta mampu bersikap ma’ruf (tidak memicu perpecah-belahan dan permusuhan) dalam menjalankannya. (halaman: 226). Maka kecongkakan memproklamirkan diri dan merasa paling pantas sendiri untuk selalu di depan namun berujung kegaduhan sungguh sama sekali dilarang.

Hal tersebut lahir karena ekspresi hijrah yang salah adalah dominasi laku lahiriah dan pengabaian terhadap lau rohaniah. Lebih lanjutnya, Pak Edi menyebutkan ada tiga parameter  untuk menakar kualitas rohani diri. Pertama, iman dengan penuh seluruh bahwa Allah yang Satu hanya satu-satunya. Kedua, takwa, ekspresi iman yang direpresentasikan dalam kepatuhan atas syari’at. Ketiga, akhlak karimah, buah sosial dari iman dan takwa yang teradaptasi dalam relasi yang bukan hanya antar umat Islam tetapi juga antar manusia. (halaman: 200).

Kedalaman ilmu, iman dan takwa akan terpancar dalam kehidupan sehari-hari yang menerima serta mendudukan perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, sedangkan perilaku barbar yang berlabel Islam adalah ceminan trkikisnya keimana seseorang.

Dalam buku ini pun, Pak Edi mengingatkan kita semua untuk memiliki seorang guru yang beperan sebagai pendamping, pencerah, pengoreksi dalam setiap amaliyah yang dijalani. Tentunya trend hijrah hari inipun harus diikuti dengan kemampuan memfilter guru atau pembimbing rohani. Seorang gutu yang kapabilitas dan spirit cinta serta kebijksanaan. Lahir dari Rahim kedalaman dan keluaran ilmu dari satu sisi dan kejernihan rohani yang terang benerang yang tidak dengan mudahnya meng klam benar-benaran atas dirinya sendiri dan menganggap orang yang berbeda sebagai sebuah kesalahan.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, karena dikemas dengan bahasa yang ringan dan kitapun sebagai pembaca disuguhkan dengan berbagai kisah dijaman nabi maupun keadaan hari ini. Untuk yang sedang mengalami fase “hijrah”pun sangat disarankan membaca buku ini.

Selanjutnya ada kutipan yang saya suka dari buku ini, sebagai pengingat untuk kita semua.

“Dulu, sebelum hijrah dia jauh dari Tuhan, setelah hijrah dia menjadi Tuhan”.

“Dulu, sebelum hijrah ia berlumur dosa, setelah hijrah, orang lainlah yang berlumur dosa”.

“Dulu, sebelum hijrah ia patuh pada orang tuanya, setelah hijrah, orang tuanyalah yang harus patuh padanya.”

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top