skip to Main Content

Esensi Bulan Rajab: Peristiwa, Ibadah dan Muamalah

Bandung, Media Center NU Kota Bandung.

Bulan Rajab, merupakan bulan yang bisa kita ambil manfaatnya. Diantaranya ada sejarah, ibadah dan muammalah. Hal tersebut disampaikan oleh KH. Mochmad Zaenal Muttaqin, pengurus PCNU Kota Bandung yang juga DKM Mesjid Besar Cipaganti, melalui kanal YouTube NU Kota Bandung Channel. Kamis (11/03).

“Dalam sejarah kita telah tau, Nabi saw di israkan dan mirajkan diawal kenabiannya ,yang mana begitu banyak rintangan, tantangan, dan ancaman yang dihadapkan kepada Nabi dalam menyebarkan syariat Islam,” Ucap Kiai yang akrab disapa Kiai Zaenal ini.

Lebih lanjt, beliau menjelaskan. Meskipun banyak tantangan yang Nabi dapatkan sepulangnya dari Isra’ Mi’raj ,beliau tetap wajib menyampaikannya. “Hal ini, berkenaan dengan sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW, yakni tabligh. Yang mana Allah SWT, memerintahkan untuk menyampaikannya. Bagi orang-orang yang berfikir, tentu tidak perlu menanyakan dalil tentang memperingati Isra’ Mi’raj.” Jelasnya.

Dijelaskan Kiai Zaenal. Pada peristiwa Isra’ Mi’raj tersimpan ilmu untuk kia semua yakni  sebuah sanins mengenai perjalanan ke luar angkasa yang pertama kali di lakukan oleh umat manusia yakni oleh Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut, menjadi sebuah pembuka cakrawala wawasan terhadap keilmuan. Selain itu, ada sebuah perintah yang sampai hari ini harus ditunaikan oleh kita semua yakni perintah Shalat.

Kiai Zaenal, memberikan arti serta hikmah yang terkandung idalamnya. Beliau menyebutkan, bahwa shalat merupakan sebuah amaliah yang harus dilaksanakan dan wajb hukumnya bagi setiap muslim. Shalat merupakan syariat islam yang mencusikan Allah SWT, serta bentuk mengabdikan diri kepada Allah SWT melalui ruku dan sujud serta diakhiri dengan salam.

“Shalat mengandung hikmah yakni pengabdian serta menganggungkan Allah dengan ruku, meninggikan Allah dengan sujud.”Tuturnyaa.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam menjalakan Shalat bukan hanya sebuah ajaran serta perintah untuk beribadah dan bertauhid kepada Allah SWT, akan tetapi harus ada penyerahan diri dan pengabdian yang benar-benar kepadaNya. Pengabdian kepadaNya bukan hanya bersifat ulluhiyah saja, namun bersifat kemanuasiaan yang disImbolkan dengan salam dalam shalat.

Hal tersebut, sebagai pengingat bagi kita semua bahwa ibadah bukan hanya yang bersifat ullluhiyah, namun ubudiyah dengan berbuat baik pada kehidupan sosial di masyarakat sebagai bentuk implementasi dari shalat

Terakhir, beliau mengutif sebuah ayat dari surat Al-Isra yakni  “Linuriyahum min aayatina”  yang menjelaskan mengenai tujuan dari Isra’ Mi’raj dari pada diperintahkannya shalat, yakni sebagai nur atau cahaya bagi dunia dan menjadi cahaya bagi semua orang.

Wallahualaam

Pewarta: Latipatunnisa
Editor    : Siti Fatonah

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top