skip to Main Content

BODY SHAMING, BOLEH GAK SIH?

Oleh: Ajeng Triani Putri

Body shaming adalah istilah perkataan yang menjelaskan tentang fostur atau bentuk tubuh seseorang. Istilah ini baru-baru diusung padahal sudah lumrah terjadi karena memang semakin marak dan biasa dilakukan. Tidak sedikit para aktivis membuat acara, show ataupun sebaran yang menjelaskan tentang body shaming. Body shaming ini kerap terjadi karena penilaian dari orang lain yang berasumsi bahwa ada sesuatu yang berbeda pada orang tersebut.

Bentuk perkataannya itu tidak melulu untuk menjatuhkan, terkadang menjadi sebuah pujian atau hanya sekedar bahan untuk bersenda gurau, malah ada pula yang menjadikan perkataan body shaming itu menjadi nama panggilan seseorang. Sebenarnya, keberadaan fostur tubuh menjadi sebuah ciri bagi setiap individu. Bayangkan jika seluruh manusia ini diciptakan Tuhan dengan bentuk dan rupa yang sama, apakah kita bisa membedakan satu sama lain?.

Tentu tidak. Maka dari itu, perbedaan bentuk tubuh seseorang menjadi sebuah keindahan tersendiri baginya yang patut disyukuri karena bisa membedakan dari yang lain. Salah satu bentuk dari body shaming adalah ketika kita menyapa teman kita dengan menyebut atau mengomentari fostur tubuhnya, seperti : “hey, ciee yang udah pulang, makan apa aja di rumah, gendutan sihh badannya!” sontak setelah temannya  disapa itu akan merasa terpukul atas pembicaraan tersebut.

Bisa juga seperti penerangan diri kita sendiri kepada teman atau kerabat tentang tubuh kita yang bisa jadi kurang disukai, seperti : “ehh liat deh pipi aku, tembem banget yaa kaya bakpau, jadi malu deh kalo ketemu kalian…” secara tidak langsung ia menghina diri sendiri dan memberi peluang kepada orang lain untuk mengatakan hal demikian. Yang lebih parah adalah ketika keberadaan tubuh kita ini dijadikan sebuah panggilan oleh seorang teman, seperti : “Hey Boncel! Kemana aja lu, gak keliatan dari kemarin!” kata boncel itu mendefinisikan tubuh seorang temannya itu berbadan pendek.

Efek dari body shaming adalah timbulnya rasa malu dan enggan untuk berinteraksi pada orang lain, seseorang akan menjadi kaku untuk melagkahkan kaki, menatap khalayak di luar karena terbebani oleh bully-an body shaming. Ruang kreasinya terbatas dan bahkan sampai putus asa dan menjadi seorang pemurung. Well, netizen memang maha benar dengan segala pembicaraannya, tinggal kitanya nih yang harus bisa tahan banting dari perkataan receh dan tak bermoral seperti itu. Yang harus kita lakukan adalah kesadaran hati dan pikiran bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah dengan segala sifat mulya-Nya, mana mungkin Allah menciptakan makhluk untuk menjadi bahan hinaan, so itu salah besar, justru seperti yang dibilang diatas bahwa perbedaan bentuk tubuh manusia adalah sebagai keberagaman yang menjadi ciri khas tersendiri, jadi sepatutnya kita bersyukur dengan apa yang telah diberi Tuhan. Yang kedua, kita harus kuat dan nerima bully-an itu dengan sikap bodo amat, karena kalo kita murung dan sensitif terus atas perkataan orang lain, kapan kita jadi orang yang sukses dan berhasil?.

Selanjutnya, kita harus menjauhi rasa ingin membalas dendam, jangan sampe nih kita dikata-katain dan kita nya pun bales hina lagi, itu suatu tindakan yang amat salah banget guys, yang harus kita lakukan adalah keep be a good, berkreasi dan memberikan inovasi, kita bales tuh hinaan mereka dengan prestasi dan memberikan kemanfa’atan kepada orang lain, aku yakin nih suatu saat mereka akan malu dengan keberhasilan kita.

Sebenarnya, ada hal yang lebih penting untuk ditanamkan di dalam kehidupan kita yaitu bersikap ramah dan kondisional. Karena terkadang, orang yang benar-benar dekat dengan kita itu bisa saja melakukan hal yang memang asalnya tidak baik tapi menjadi hal biasa. Seperti contoh pribadi, aku mempunyai panggilan khusus pada teman dekatku dengan penyesuaian bentuk tubuh kita. Dia memanggilku “Kaka Peot” karena memang aku kurus, dan aku memanggilnya “Dede Endut” karena dia sebaliknya. Ku akui memang itu body shaming, tetapi hati kita sudah saling menerima karena nilai persahabatan melebihi dari rasa sakit akibat panggilan itu. Tapi ini jangan dijadikan contoh ya teman-teman. (yang bisa diambil hikmah adalah nilai persahabatannya).

Jadi kesimpulannya, akhlaq atau adablah yang harus menuntun kita untuk berinteraksi baik dengan seseorang. Kita harus tahu bagaimana menyikapi orang yang sedang kita hadapi, karena kalau kita menempatkan sesuatu yang tidak pas maka timbal baliknya pun tidak akan baik.So, untuk kalian “Good People and Smart Generation” mari kita sama-sama menjaga etika dan akhlaq kita terhadap diri kita sendiri dan kepada orang lain. Selalu bersyukur dengan apa yang telah Tuhan beri, warnai hidupmu dengan hal-hal positif yang kau sukai dan selalu memberi manfa’at kepada orang lain.

___

Ajeng Triani Putri, saat ini berproses dan aktif di IPPNU juga diamanahi sedang Sekretaris Cabang Tasikmalaya dan mengenyam pendidikan di Insitut Agama Islam Cipasung Jurusan Bahasa Arab

 

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top