skip to Main Content

TINGKATKAN KUALITAS KADER TB, IU LKNU KOTA BANDUNG ADAKAN PELATIHAN

Bandung,NU Kota Bandung

Tuberkulosis atau TB merupakan salah satu di antara 10 besar penyakit yang mematikan. Hal ini pernah disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung, pada Senin (29/06/20) saat mengisi Talkshow Radio di Pr FM News, dr. Hj Rosye Arrosdiani Apip, M.kom, pada kegiatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diselenggarakan oleh Implementer Unit (IU) TB Lembaga Kesehatan Nahdhatul Ulama Kota Bandung bekerja sama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Bandung dengan tema “Its Time, Stop Stigma and End TBC“.

Rosye, sapaan akrabnya, mengingatkan betapa bahayannya penyakit ini, yang tidak hanya dialami oleh penderita, namun juga lingkungan tempat berinteraksi, bersosialiasi serta komunikasi, atau yang biasa disebut “kontak“, termasuk keluarga, tetangga dan semua orang yang terlibat dengan penderita penyakit yang disebabkan oleh Mycrobacterium ini. Bakteri ini memiliki sifat dormant (suka tidur) dalam beberapa tahun tanpa gejala.

TB kerapkali membuat orang merasa tidak percaya diri dan terpinggirkan secara sosial. Seringkali, mereka yang menderita TB merasa malu dan enggan untuk melakukan pemeriksaan pengobatan ke puskesmas. Padahal, fasilitas dan layanan TB sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang mempunyai iktikad sembuh dan tanpa dipungut biaya. Karena TB telah menjadi salah satu program pemerintah dalam eliminasi TBC.

Satu hal yang fatal adalah penderita TB yang mangkir, tidak teratur atau putus berobat. Akibatnya, mereka akan masuk pada fase penderita yang tidak mempan dengan obat-obatan  yang populer dengan sebutan TB Resisten Obat ( TB RO), dalam istilah lain juga disebut Multi Drug Resisten (TB MDR). Keadaan ini akan memperburuk kondisi kesehatan. Kuman juga akan semakin sakti dan kebal terhadap jenis obat-obatan anti TB sebelumnya. Dibutuhkan waktu yang lebih lama dan obat yang lebih mahal untuk mengobati pasien TB RO.

Karena beberapa alasan tersebut, pada Kamis (16/07/20) IU TB LKNU di Kota Bandung mengadakan pelatihan  dengan judul “Training For Patient Support/Cadre at Districs Level LKNU” di Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Pada kesempatan ini, IU bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Bandung dalam proses perekrutan Kader dari masing-masing puskesmas yang terdapat TB RO atau MDR. Para peserta yang ditunjuk oleh Puskesmas menerima wawasan serta bekal turun ke lapangan mendampingi pasien TB RO.

Ali Makhrus, selaku IU, menyebut kegiatan ini merupakan salah satu upaya percepatan penanganan terhadap para pasien TB, khususnya TB RO yang digalakkan oleh Pemerintah, melalui Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI) per Januari 2020 dengan menggunakan perangkat struktur dan kultur sekaligus. Salah satu aparatur kultural tersebut ialah Sub Reciepent Khsus Lembaga Kesehatan Pngurus Besar NU (SR-Khusus LK PBNU).

“Kegiatan ini merupakan salah satu jawaban atas berbagai tantangan dan hasil evaluasi selama program ini berlangsung sejak tahun 2018. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan peran komunitas dalam melakukan penemuan dan pendampingan kasus sensitif dan resisten obat dapat berjalan  dengan semakin baik dan mendapatkan hasil yang optimal”, beber Ali Makhrus, selaku koordinator IU.

Dalam pelaksanaan di lapangan, program ini dijalankan oleh para pasien supporter dan kader terlatih di bawah koordinasi dan tanggung jawab Tim Case Management TB Resisten Obat yang terdiri dari: Manajer Kasus (MK) LKNU yang bertugas di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM), RS Paru Rotinsulu serta IU di Kota Bandung. Serta didukung oleh 20 peserta yang terdiri dari 3 Pasien Supporter dan 17 kader dari 17 puskesmas.

Pewarta: Ali Makhrus

 

 

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top