skip to Main Content

9 Nilai Dasar Gus Dur yang Perlu Kita Teladani

Sebagaian Peserta Pengajian Virtual Muda Mudi NU Kota Bandung

Bandung, Media Center NU Kota Bandung. Bagi para pecinta Gus Dur, bulan Desember sering disebut sebagai #BulanGusDur. Pada bulan ini, segala bentuk kegiatan untuk menghidupkan dan merawat ajaran atau nilai-nilai Gus Dur digelar. Mulai dari symposium, diskusi ataupun perayaan kegiatan kebudayaan dilaksanakan. Hal tersembut untuk mengenang dan merawat nilai-nilai yang Gus Dur wariskan. Biasanya kegiatan tersebut dilaksanaakan dalam rangka haul Gus Dur.

Begitupun dengan muda-mudi yang tergabung dalam pengajian dwi minggu Kripik-Singkong. Mengadakan pengajian secara virtual dengan tajuk “Merawat dan Menghidupkan nilai-nilai Gus Dur untuk generasi saaat ini”. Meskipun dilaksanakan secara virtual namun, kegiatan berjalan dengan lancar dan mendapat apresiasi dari para jamaah. Pemateri dalam pengajian sepesial haul Gus Dur ini yakni Ryan Sevian, penggiat GusduRian Kota Banadung dan Kiai Wahyul Afifi Al-Gofiqi, Sekretaris PCNU Kota Bandung.

Merawat Nilai-Nilai Gus Dur

Kedekatan dan pembelaan Gus Dur terhdap setiap kalangan dan kelompok tertindas memberikan inspirasi penguatan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-haru, Sikapnya yang humanis sudah seyogyanya menjadi inspirasi untuk generasi saat ini ditengah kehidupan kaum beragama yang terkadang cenderung intoleran dengan kerap kali melegtimasi tindakan dengan dalil-dalil agama yang dipamahi secara tekstual.

Gus Dur sebagai guru bangsa telah merawasikan apa yang sudah beliau mulai, tinggal kita sebagai generasi saat ini yang melanjutkan apa yang sudah dimulainya. Dalam setiap pemikiran, gerakan dan langkah Gus Dur selalu konsisten apa yang dikatan dengan oerbuatannya sehinggga muncul idealisme dan akhlak yang kokoh. Segala nilai yang telah diwariskan oleh Gus Dur ini dituangkan dalam Sembilan nilai utama Gus Dur yang kemudian menjadi pondasi dari gerakan yang dilakukan oleh jaringan GusduRian yang telah menyebar diseluruh Indonesia bahkan  luar negri.

Sembilan nilai utama Gus Dur ialah; ketauhidan, kemanusaiaan, keadilan, kesetaraan, pe,bebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan dan kearifan lokal. Nilai-nilai Gus Dur tersebut sangat menjaadi teladan yang patut dilestarikan. Bahkan, untuk generasi saat ini. Sembilan  nilai-nilai dasar Gus Dur ini yakni:

Ketauhidan
Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekadar diucapkan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan. Ketauhidan menghujamkan kesadaran terdalam bahwa Dia adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan di jagad raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kemanusiaan
Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.

Keadilan​​​​​​​
Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak sendirinya hadir di dalam realitas kemanusiaan dan karenanya harus diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil, merupakan tanggungjawab moral kemanusiaan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur rela dan mengambil tanggungjawab itu, ia berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Kesetaraan​​​​​​​
Kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan, termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal.

Pembebasan​​​​​​​
Pembebasan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggungjawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan, untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu. Semangat pembebasan hanya dimiliki oleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pembebasan ini, Gus Dur selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

Kesederhanaan​​​​​​​
Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan.

Persaudaraan
​​​​​​​Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

Keksatriaan​​​​​​​
Keksatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi: penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.

Kearifan Tradisi​​​​​​​
Kearifan tradisi bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan tradisi Indonesia di antaranya berwujud pada dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, serta seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakkan kearifan tradisi dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Pewarata: Asmara

Dilasair dari materi pengajian Virtual Kripik Singkong, Muda-Mudi NU Kota Bandung

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top